Header Ads

Abaikan SOP Pemakaian, Driver Ambulance RS.Panti Rahayu Parkirkan Kendaraannya di Sebuah Warung Makan


WARTA JOGJAKARTA | GUNUNGKIDUL -- Pemandangan tak lazim terjadi beberapa waktu yang lalu tepatnya Selasa ( 02/06/2020 )  nampak sebuah mobil Ambulance milik salah satu rumah sakit swasta yang ada di Kabupaten Gunungkidul terpakir di depan sebuah rumah makan Jl.Wonosari-Jogja tepatnya di Desa Beji, Kecamatan Patuk.

Berbagai polemik muncul di masyarakat mengenai peristiwa tersebut, salah satunya datang dari Endang (28) yang kebetulan mengetahui kejadian ini.Dirinya mempertanyakan apakah SOP ( Standar Operasional Prosedur ) dari penggunaan ambulance tersebut memperbolehkan untuk berhenti di sembarang tempat, apalagi dalam kondisi seperti ini.

" Yang saya heran, apakah driver dari rumah sakit tersebut tidak dibekali dengan SOP, sedangkan masyarakat tahu bahwa Rs.Panti Rahayu merupakan salah satu rumah sakit tunjukan penanganan Covid-19 oleh Pemerintah, bagaimana tentang keseterilan dari kendaraan tersebut, apakah bisa dipastikan tidak terkontaminasi dari virus ini, sedangkan banyak kendaraan yang berasal dari luar daerah saja disuruh balik arah dengan alasan dari daerah zona merah penyebaran covid 19", kata Endang dengan nada bertanya saat dikonfirmasi dengan awak media.

Dalam hal ini banyak pihak yang mempertanyakan pemahaman driver tersebut terkait mekanisme dalam membawa sebuah kendaraan ambulance bisa berhenti di sembarang tempat, salah satunya depan rumah makan.

Saat dikonfirmasi oleh media warta-jogjakarta.com Direktur Rs.Panti Rahayu dr. Y Wibowo Soerahjo, MM membenarkan bahwa ambulance tersebut diakui merupakan salah satu ambulance milik Rs.Panti Rahayu.

Mengenai kejadian tersebut, pihaknya sudah klarifikasi dengan driver yang membawa ambulace tersebut. Menurutnya, semua karyawan yang bekerja di rumah sakit Panti Rahayu telah di bekali SOP di bidangnya masing-masing, termasuk driver ambulance.

" Kami mengakui memang benar itu salah satu ambulance milik rumah sakit Panti Rahayu, namun ambulance tersebut pada waktu itu tidak dalam membawa pasien covid-19, akan tetapi kendaraan tersebut dipakai untuk pengangkut kursi di ruang tunggu pendaftaran, karena dengan banyaknya pasien yang periksa dan tetap mematuhi protokol kesehatan salah satunya jaga jarak, maka kami memerlukan jumlah kursi banyak, yang harus kami sediakan untuk antrian pendaftaran dan ambulance itu kita gunakan untuk mengangkut kursi tersebut, karena kita kekurangan kendaraan untuk angkutan barang", jelas Wibowo Soerahjo.

Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan yang bersangkutan dan telah memberi teguran agar tidak mengabaikan SOP mengenai mekanisme dalam membawa ambulance.

" Anak buah saya juga telah mengakui semuanya, bahwa waktu itu dia berhenti untuk istirahat makan siang dan masyarakat tidak perlu khawatir bahwa ambulance tersebut sudah disterilisasi dan bukan ambulance pembawa pasien terpapar covid 19, logikanya sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19, kami tidak mungkin melakukan hal tersebut",imbuhnya.

Melihat situasi seperti ini sangatlah wajar jika masyarakat sangat sensitif terhadap setiap hal yang menyangkut kesehatan, apalagi pemahaman berbeda dalam menyimpulkan suatu kejadian dengan rasa kekhawatiran dalam menghadapi dampak dari pandemi covid 19 ini sering memunculkan persepsi negatif terlebih tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan covid - 19, jadi apapun yang dilakukan tak luput dari sorotan masyarakat.

 
WJ ( Red )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.